Cari Blog Ini

Minggu, 12 Desember 2010

Durian Jepara Rajanya Durian Dunia


Gb.1 Durian Petruk

Durian Jepara Rajanya Durian Dunia! Jepara memang identik dengan varietas durian jenis Petruk. Varietas lokal ini merupakan salah satu varietas unggulan. Ciri-ciri durian Petruk adalah rasanya yang manis, baunya yang menyengat mantab, daging buahnya tebal, dan bijinya yang kecil juga daging buahnya yang tidak lembek. Jadi kalau anda berkunjung ke Jepara jangan lewatkan kesempatan untuk mencicipi lezat buah berduri nan manis ini. 

Salah satu artikel di Majalah Trubus menyebutkan bahwa Lomba Durian Enak telah digelar di Kota Ukir sejak 22 tahun yang lalu, tercatat 16 kali sang raja buah diadu. Buah yang memiliki nama latin Durio zibethinus ini memang selalu dinanti para penggemarnya. Berikut ini adalah beberapa potongan artikel tersebut:

"Kota Jepara memang gudangnya durian enak. Tengok saja hitung-hitungan ini. Setiap lomba minimal menghasilkan 3 pemenang. Artinya, dari 16 kali kontes diperoleh 48 durian lezat. Angka itu hampir setara dengan jumlah durian varietas unggul nasional yang dilepas sejak 23 tahun silam. Dari jumlah itu petruk paling terkenal. Daging buah kuning, tebal, dan berbiji kecil. Namun, pohon petruk mati tak lama setelah dilepas sebagai varietas unggul nasional. Pohon meranggas karena entres yang diambil untuk perbanyakan terlalu banyak.

Untuk menggantikannya, 'Ada 3 jenis yang bakal dirilis sebagai simbol Jepara,' kata Ir Tri Handana T, kepala seksi Hortikultura Dinas Pertanian dan Peternakan, Jepara. Ketiganya, sukarman, sutriman, dan subandi. Yang disebut pertama kering, legit, dan pulen. Pun sutriman dan subandi. Selain manis keduanya lembut.

Saking banyaknya durian top di Jepara banyak mania luar kota berburu ke sana. Sebut saja Chandra Gunawan dan Ricky Hadimulyo. Keduanya rela terbang dari Jakarta pada penghujung Desember 2006 demi mencicipi durian jepara. 'Yang tidak juara saja rasanya enak. Apalagi yang jawara, sulit diungkap dengan kata-kata,' kata Chandra. Ia menyebut tarmin alias sutarmin sebagai durian terenak yang pernah dicicip. Durian tarmin kuning, kering, dan tebal. Bila dicicip rasa manis tak hilang selama 15-30 menit.

Pendapat H Suyono Alwi, hobiis durian yang kerap menjadi juri lain lagi. 'Di antara para juara, yang paling pulen, legit, dan enak durian karman atau sukarman,' katanya. Konon durian itu sangat kering sehingga bila dimasukkan ke dalam saku tak melekat. Namun, bila dicecap lidah, rasa manis dan legitnya lengket dan tak gampang hilang.

Kelezatan karman membuat Trubus rela menembus hujan lebat ke Desa Bawu, Kecamatan Batealit, Jepara, pada penghujung Desember 2006. Letaknya sekitar 12 km ke arah timur dari pusat kota. Di sana pohon durian setinggi 25 m tumbuh di belakang rumah Sukarman, sang pemilik. Lingkar batang mencapai 2 pelukan orang dewasa. Toh, cabang paling bawah yang mendatar masih bisa disentuh karena tinggi hanya 1,5 m. Empat durian karman yang berlekuk-lekuk tampak bergelayutan. Sayang, buah belum matang sehingga tak bisa dicicipi.

Menurut Sukarman, pohon yang umurnya di atas 70 tahun itu masih produktif. Setiap tahun dipanen 150-300 buah berbobot 1-1,5 kg. Bila musim tiba Durio zibethinus itu dihargai Rp7.500-Rp20.000 per buah tergantung bobot. 'Musim lalu (2005, red) saya dapat Rp4-juta,' ujarnya. Artinya, tahun lalu dari pohon itu minimal dipanen 200 buah. Kakek itu berjanji mengabari Trubus bila durian andalannya matang pada Januari.

Sebulan berselang Sukarman menepati janji. Melalui Nur Mualief, mania durian di Jepara, 4 buah durian karman dikirim ke redaksi. Aroma harum menguar sejak buah tiba. Kerabat lai yang berlekuk seperti belimbing pun dibelah. Benar saja, daging buah yang agak kekuningan itu kering. Rasanya, 'Legit dan pulen. Enaknya setara dengan tong medaye,' kata Evy Syariefa, juri lomba durian Trubus. Yang disebut terakhir durian terbaik dari Narmada, Nusa Tenggara Barat. Pantas Alif berani berkomentar, karman durian paling enak di seantero Jepara setelah petruk yang melegenda."



Gb. 2 Peta Jepara

dalam artikel lain pun disebutkan petualangan penggemar buah ini di Jepara memburu beberapa varietas lain yang tak kalah lezatnya:

"Keesokan harinya langit Semarang terus diguyur hujan. Jalan Kaligawe, Semarang yang merupakan jalur utama menuju Demak, Jepara, dan Kudus pun mulai terendam. Namun, perburuan ke Jepara - kabupaten yang terkenal melahirkan durian petruk - tetap dilanjutkan.Kali ini perjalanan ditemani Nur Mualief, pengusaha peralatan furniture, dan H Suyono Alwi, kepala Cabang Dinas Pertanian wilayah Pecangan, Jepara. Keduanya mania durian berat.

Alif - panggilan akrab Nur Mualief - kerap mencari informasi durian juara di Jepara, lalu berburu langsung ke pemiliknya. Buah itu tak dimakan sendiri, tapi dikirimkan ke segenap kerabat di Semarang dan Jakarta untuk menunjukkan durian jepara-lah yang paling enak. Pun Suyono, ia sering bergerilya mencari durian unggul dan mengirimkannya ke kabupaten untuk mengikuti lomba durian lokal yang setiap tahun digelar.

Dari pusat kota kami bergerak ke arah utara sejauh 6 km untuk menuju Desa Kecapi, Kecamatan Tahunan. Ketika memasuki wilayah pedesaan, pohon durian tampak di kiri-kanan jalan dan di halaman rumah sederhana. Sebuah pemandangan kontras terlihat setelah perjalanan selama 10 menit.

Sebuah rumah mewah dua lantai terlihat menonjol di antara rumah-rumah sederhana. Di depan halaman patung 3 butir durian nan kokoh menyambut pelancong yang datang. Itulah kediaman Hj Gipah, penebas kondang di Jepara. Ia menguasai sekitar 300 pohon di 6 desa di sekitar Desa Kecapi.

Menurut Alif, minimal ada 6 durian andalan Hj Gipah, yakni gipah 01, gipah 02, gipah 03, pilah, karti, dan asnawi. Itu adalah durian jawara kontes se-Jepara yang dikirimkan Gipah sejak 1986 - 2005. Karti misalnya, meraih jawara 1 pada 2005. Gipah 03, ia pernah berjaya pada 1986. Trubus melihat, piagam pemenang masing-masing durian di tempel di dinding rumahnya. Ini untuk meningkatkan gengsi buah. Harganya pun terdongkrak, kata Gipah.

Segera saja 3 buah durian disodorkan. Gipah berwarna kuning mentega, berasa manis dan sedikit pahit. Bijinya berukuran sedang, tapi daging buah lumayan tebal. Pilah, legit dan lekat di tenggorokan. Kami sepakat yang paling istimewa justru yang terakhir, asnawi. Tebal, manis, dan legit. Satu juring paling berisi 2 pongge dengan biji amat kecil. Ukuran biji sebesar 1 buku kelingking orang dewasa.

Dari tempat Gipah, perburuan dilanjutkan menuju durian sumarni di Desa Rengging, Kecamatan Pecangaan. Letaknya sekitar 13 km ke arah selatan dari pusat kota. Menurut Suyono, bila juara yang lahir setiap tahun diadu, maka besar kemungkinan sumarni yang menang. Teksturnya lembut dan tak berserat. Rasanya sangat khas, kombinasi manis, legit, dan pulen, kata Suyono. Lagi-lagi kami beruntung karena seorang pemanjat tetap bersedia mengambil buah walau angin kencang dan gerimis menghadang. Saat dibelah, kata-kata Suyono terbukti. Durian itu paling enak selama perburuan kami di Jepara. Durian di Pasar Ngabul - pasar durian di Jepara - pun tak ada yang mampu menandinginya."



Gb.3 Tugu durian yang menandai Pasar Ngabul

Soto dan Bakso Bu Iyah Bugel Jepara

Nikmatnya Soto dan Bakso Bu Iyah Bugel Jepara





Bagi penikmat kuliner khususnya Soto dan Bakso dikawasan desa Bugel kecamatan Kedung Kabupaten Jepara tidak akan asing akan Soto dan Bakso “Penthol” milik ibu Iyah. Di dalam warung yang sederhana berukuran 3 X 4 meter setiap harinya ibu iyah , suami dan adiknya setia melayani ratusan pelanggan dari berbagai kalangan, ada pegawai negeri, tukang kayu, salesman , sopir dan pegawai swasta menjadi pelanggan utamanya. Oleh karena itu jika kita datang pada waktu istirahat makan siang , kita tidak bisa langsung masuk saking banyaknya pengunjung. Namun harus menunggu beberapa saat , agar satu persatu pelanggan keluar sehabis menikmati hidangan soto dan bakso.
Jika dilihat sekilas warung soto dan Bakso ini tidak jauh berbeda dengan lainnya , selain bentuknya sederhana dengan jendela kaca dan tulisan seadanya juga tidak ada banner atau spanduk seperti layaknya promosi warung yang marak saat ini. Meskipun begitu warung Soto dan Bakso ibu Iyah ini tidak kehilangan pelanggan , justru setiap waktu pelanggannya makin bertambah . Hal ini disebabkan promosi gencar dilakukan justru dari pelanggan itu sendiri , satu pelanggan akan mengajak temannya setelah menikmati kelezatan dan murahnya Soto atau Bakso Ibu Iyah. Bahkan kadang-kadang satu pelanggan membawa temannya 5 – 10 orang untuk mencoba menikmati hidangan dari Warung Ibu Iyah , sehingga sering warung ibu Iyah ini dijadikan ajang reuni sesama teman.
“ Yah beginilah keadaan warung saya mas sederhana banget, meskipun begitu setiap hari kami kewalahan melayani pelanggan , utamanya pas jam makan tiba banyak pelanggan orang kantoran yang makan siang disini , misalnya pegawai kecamatan , perangkat desa , dan juga pegawai puskesmas . Selain itu tukang kayu, sopir dan sales juga sering makan disini “ , ujar Ibu Iyah pada Muin reporter For-Mass.blogspot.com yang mewawancarainya.
Pada For-Mass Ibu Iyah menuturkan, usaha warung Soto dan Bakso ini dirintisnya pada tahun 1995 dia bersama suaminya mempersiapakan keperluan warung seperti belanja , meracik bumbu, membuat pentol bakso ia tangani sendiri . Agar rasa masakan tidak berubah maka ketika menyajikannyapun ia lakukan sendiri bersama suaminya , karena pernah sekali dilakukan oleh orang lain rasanya menurut pelanggan kurang pas . Sehingga jika kebetulan ada halangan dia tidak buka maka warungnyapun tidak buka karena tidak ada yang memasak dan menyajikannya , itu semua ia lakukan demi kepuasan pelanggan .
Menu utama dari warung ibu Iyah ini adalah Soto dan Bakso , Soto seharga Rp 5.000,- ini berdaging ayam yang empuk , kuahnya cukup lezat dan juga nasi putih yang gurih cocok untuk makan siang . Bakso pun seharga Rp 5.000,- setiap mangkoknya , dengan kuah bumbu yang gurih , pentol bakso yang cukup besar dan lezat ditambah soun membuat lidah bergoyang-goyang keenakan. Selain rasanya lezat harganya cukup murah , karena porsi di warung ini isinya lebih banyak dibandingkan dengan warung lainnya. Selain Soto dan Bakso warung ini juga menghidangkan sate kikil yang mak nyos rasanya dan juga Sate paru yang juga tidak kalah lezatnya , harganyapun cukup murah yaitu Rp 1.000,- - Rp 1.500,- setiap tusuknya. Untuk minuman pun beragam , ada teh panas, teh dingin, es jeruk dan minuman lainnya juga tinggal minta. Karena kemurahannya itulah warung ini makin lama makin banyak pengunjungnya, tidak saja warga setempat tetapi lain kotapun ingin merasakan kelezatannya.
“ Setiap kirim barang ke daerah ini saya selalu makan siang disini, saya menjadi pelanggan disini hampir sepuluh tahun ini , selain rasanya lezat dari dulu hingga sekarang juga harganyapun merakyat. Dengan hanya Rp 20.000 saya dengan sopir dapat makan kenyang , jadi ya tidak berubah ke yang lain warung Soto dan Bakso ibu Iyah ini memang langganan kami seterusnya “, kata Andi salah seorang sales minuman pada For-Mass.Blogspot.com yang juga ikut merasakan kelezatan Soto dan Bakso ibu Iyah.
Oleh karena itu bagi pembaca semua , khusunya yang bertempat tinggal di seputaran Jepara dan sekitarnya atau sedang klinong-klinong ke kota Jepara dapat mampir ke warung ibu Iyah . Sedang lokasinya tidak jauh dari kantor kecamatan Kedung masuk gang sedikit , semua orang sekitar kantor kecamatan Kedung telah mengenal keberadaan Warung Soto dan Bakso Ibu Iyah ini. Sampai di Bugel tidak mencoba rugi banget, selain cita rasanya yang lezat , juga sate kikilnya yang ngangeni , selamat mencoba ya